img-detail-thumbnail
Jebakan Cicilan Digital: Kenapa Gen Z dan Milenial Makin Sulit Lepas dari Pinjol?
Admin TechnoMonsta Rabu, 21 Oktober 2026

Fenomena Dompet Tipis dan Godaan Klik Cair

Buka ponsel sebentar, iklan pinjaman daring atau pinjol langsung lewat. Cukup foto KTP dan wajah, uang jutaan rupiah bisa masuk rekening dalam hitungan menit. Kemudahan ini bikin banyak anak muda tergiur. Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per Juli 2024 mencatat hal yang mengejutkan. Kelompok usia 19 sampai 34 tahun, alias Gen Z dan milenial, menyumbang 37,17 persen dari total kredit macet pinjol. Kredit macet ini dihitung dari pinjaman yang telat dibayar lebih dari 90 hari, atau biasa disebut TWP90.

Sedikit catatan: kalau Anda sedang mempertimbangkan membuat website bisnis atau aplikasi mobile untuk produk digital, TechnoMonsta bisa bantu dari perencanaan fitur, desain UI/UX, sampai rilis. Cocok untuk UMKM, startup, maupun tim internal yang butuh eksekusi lebih cepat.

Padahal secara umum, angka kredit macet industri pinjol masih aman di kisaran 2,53 persen. Namun porsi anak muda di dalamnya tergolong besar. Total uang yang berputar di industri pinjaman online ini juga terus naik, tembus Rp69,39 triliun pada Juli 2024. Mengapa anak muda sangat akrab dengan utang digital ini? Jawabannya ada pada kebiasaan harian yang serba lewat layar HP. Kantor bank dan mesin ATM kini mulai sepi karena semua transaksi pindah ke aplikasi.

Beli Dulu Bayar Nanti, Tagihan Datang Belakangan

Selain pinjol tunai, ada fitur paylater atau Buy Now Pay Later (BNPL). Konsepnya sederhana: beli barang sekarang, bayar bulan depan atau dicicil. Layanan ini makin digemari daripada kartu kredit biasa. Catatan Pefindo Credit Bureau menunjukkan ada 38,12 juta akun paylater aktif pada pertengahan 2024. Jumlah akun ini hampir tiga kali lipat lebih banyak daripada pemegang kartu kredit konvensional.

Data OJK per Agustus 2024 memperlihatkan utang paylater lewat bank melonjak 40,68 persen menjadi Rp18,38 triliun. Pembiayaan lewat perusahaan keuangan bahkan melesat 89,20 persen ke angka Rp7,99 triliun. Khusus Gen Z saja, pinjaman paylater sudah menyerap Rp8,99 triliun per Juni 2024. Sayangnya, banyak pemakai terjebak rasa takut ketinggalan tren atau FOMO (Fear of Missing Out). Mau nonton konser musik idola, beli baju tren terbaru, atau nongkrong di kafe kekinian, semua ditalangi paylater. Cicilan kecil Rp50 ribu per minggu terasa ringan di awal, tapi saat jumlahnya puluhan, tagihan mendadak menumpuk dan mencekik leher.

Bukan Cuma Gaya Hidup, Ada Urusan Dapur Juga

Apakah semua anak muda berutang hanya demi gengsi? Ternyata tidak selalu. Sebagian besar justru terpaksa meminjam demi bertahan hidup. Contoh nyata datang dari Kholik (26 tahun) dan Amrin (23 tahun). Kholik menganggur cukup lama setelah terkena pemutusan hubungan kerja di pabrik kabel. Ia sempat mencoba jadi pengemudi ojek online, namun motornya sering rusak dan penghasilannya tekor. Kholik akhirnya meminjam uang di aplikasi pinjol demi ongkos melamar pekerjaan ke sana kemari.

Hal serupa dialami Amrin yang tabungannya habis saat mencari kerja tetap di ibu kota. Karena kepepet dan butuh biaya harian, pinjol jadi jalan pintas paling cepat. Situasi ini menunjukkan masalah nyata di lapangan: sulitnya mencari lapangan kerja dan tidak adanya dana darurat. Ketika tabungan nol dan kebutuhan makan mendesak, pinjaman digital yang cair instan seolah menjadi satu-satunya pelampung penyelamat, meski risikonya sangat tinggi.

Aturan Main Baru dan Cara Menyelamatkan Dompet

Melihat tumpukan utang anak muda, OJK tidak tinggal diam. OJK mewajibkan semua penyedia pinjol memasang tanda peringatan tegas di layar aplikasi. Pesannya jelas: transaksi ini berisiko tinggi, jangan berutang jika tidak punya kemampuan membayar. OJK juga menerapkan aturan lewat POJK Nomor 10 Tahun 2022 dan SEOJK Nomor 19 Tahun 2023 agar penyedia pinjol lebih ketat memeriksa kemampuan bayar nasabah sebelum mencairkan dana.

Agar tidak terjebak lingkaran utang, kita perlu membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Sebelum memencet tombol pinjam atau cicil, tanyakan dulu pada diri sendiri: apakah barang ini wajib dibeli hari ini? Jika hanya untuk gengsi media sosial, segera batalkan. Mulailah menyisihkan uang receh untuk tabungan darurat, sesedikit apa pun itu. Jangan pernah memakai pola gali lubang tutup lubang, yaitu meminjam di aplikasi baru hanya demi membayar utang lama, karena bunga dan denda akan berlipat ganda.

Mengatur keuangan memang butuh latihan dan kesabaran, apalagi godaan belanja ada di genggaman tangan setiap detik. Berutang secara bijak untuk hal produktif itu wajar, tetapi jangan biarkan gengsi sesaat merusak masa depan kita. Kamu pasti bisa lebih bijak mengendalikan uangmu, yuk mulai rapikan pos belanja dari sekarang!

Poin Penting

  • Anak muda usia 19-34 tahun menyumbang 37,17 persen dari total kredit macet pinjol per Juli 2024.
  • Total pembiayaan pinjol nasional mencapai Rp69,39 triliun, sementara utang paylater bank tembus Rp18,38 triliun.
  • Akun paylater di Indonesia mencapai 38,12 juta akun, hampir tiga kali lipat melampaui jumlah kartu kredit.
  • Alasan berutang bukan cuma gaya hidup atau FOMO, tetapi juga tuntutan bertahan hidup saat menganggur.
  • Hindari kebiasaan gali lubang tutup lubang dan biasakan menabung dana darurat sebelum mengambil cicilan baru.

Ringkasan: Layanan pinjaman online dan paylater kini sangat akrab di kalangan generasi muda Indonesia karena aksesnya yang cepat dan serba digital. Namun, kemudahan ini memicu lonjakan utang macet, di mana kelompok usia 19 hingga 34 tahun menyumbang 37,17 persen dari total pinjaman bermasalah di pinjol pada Juli 2024.

Penyebab jeratan utang ini terbagi dua, yaitu tekanan gaya hidup akibat takut ketinggalan tren (FOMO) dan kebutuhan mendesak untuk bertahan hidup saat belum memiliki pekerjaan tetap. Penggunaan paylater pun melesat tajam mengalahkan kartu kredit konvensional karena syaratnya jauh lebih mudah.

Menanggapi masalah ini, Otoritas Jasa Keuangan memperketat aturan uji kelayakan kredit dan mewajibkan peringatan risiko di aplikasi. Masyarakat diimbau untuk lebih bijak membedakan kebutuhan dan keinginan serta menghindari pinjaman baru untuk menutup utang lama.

Jika setelah membaca ini Anda ingin mengubah ide menjadi produk nyata, TechnoMonsta siap membantu pembuatan website atau aplikasi mobile dengan proses yang rapi dan terukur—mulai dari MVP sampai pengembangan lanjutan sesuai kebutuhan bisnis.

Bagikan :
Konsultasi Gratis

Solusi Digital Terbaik untuk Bisnis Anda

Diskusikan kebutuhan bisnis Anda dengan tim ahli kami. Kami siap membantu Anda merancang strategi digital yang efektif, efisien, dan berdampak nyata bagi pertumbuhan bisnis Anda.

Analisis Mendalam

Kami pelajari bisnis Anda secara detail untuk solusi tepat sasaran

Solusi Personal

Strategi yang disesuaikan dengan target dan budget Anda

Dukungan Penuh

Tim kami siap membantu dari perencanaan hingga implementasi

Mulai Konsultasi

Isi formulir di bawah ini untuk memulai diskusi proyek Anda.

Privasi Anda terjaga 100%.