Pernahkah kamu merasa lelah luar biasa setelah seharian kerja atau kuliah, lalu tiba-tiba tangan bergerak membuka aplikasi belanja di ponsel? Tanpa sadar, barang-barang yang tidak terlalu kamu butuhkan sudah masuk keranjang dan langsung kamu bayar. Niatnya ingin membuat hati senang, tetapi beberapa hari kemudian kamu malah panik saat melihat saldo tabungan menipis. Kondisi ini punya nama khusus, yaitu doom spending.
Sedikit catatan: kalau Anda sedang mempertimbangkan membuat website bisnis atau aplikasi mobile untuk produk digital, TechnoMonsta bisa bantu dari perencanaan fitur, desain UI/UX, sampai rilis. Cocok untuk UMKM, startup, maupun tim internal yang butuh eksekusi lebih cepat.
Apa Itu Doom Spending Sebenarnya?
Secara sederhana, doom spending adalah kebiasaan belanja yang timbul karena emosi kacau, bukan karena kamu benar-benar butuh barangnya. Saat seseorang merasa cemas, takut memikirkan masa depan, atau tertekan oleh rutinitas hidup, belanja online sering kali dijadikan jalan pintas untuk mencari hiburan.
Sensasi menekan tombol bayar dan menunggu paket datang memberi rasa puas instan di otak. Otak kita merasa mendapat hadiah kecil setelah melewati hari yang berat. Namun, rasa senang ini biasanya hanya bertahan sebentar. Begitu barang tiba di rumah, rasa cemas lama bisa kembali datang, bahkan bertambah parah karena uang sudah telanjur habis.
Mengapa Gen Z dan Milenial Sering Mengalaminya?
Banyak orang mengira anak muda gemar belanja boros hanya karena gaya hidup konsumtif. Nyatanya, masalahnya jauh lebih dalam. Situasi ekonomi dunia saat ini terasa cukup berat bagi generasi muda. Harga rumah melambung tinggi, persaingan kerja kian ketat, dan ketidakpastian masa depan kerap memicu rasa putus asa.
Survei dari CNBC International menunjukkan fakta menarik: sekitar 42,8 persen orang dewasa merasa keadaan finansial mereka sekarang lebih buruk dibandingkan orang tua mereka pada usia yang sama. Karena merasa impian besar seperti membeli rumah terasa mustahil dicapai, banyak anak muda akhirnya memilih untuk menikmati uang mereka saat ini saja lewat kesenangan kecil sehari-hari, seperti nongkrong di kafe, beli pakaian baru, atau berburu jajanan viral.
Godaan Fitur Paylater yang Bikin Lupa Diri
Teknologi belanja digital saat ini makin memudahkan siapa saja untuk berutang tanpa terasa. Salah satu pemicu terbesar maraknya doom spending adalah fitur paylater, yaitu sistem beli sekarang bayar nanti. Fitur ini bekerja mirip kartu kredit mini di aplikasi ponsel.
Menurut data terbaru per Maret 2025, nilai transaksi paylater di Indonesia sudah menembus angka fantastis Rp8,22 triliun, tumbuh lebih dari 39 persen dibanding tahun sebelumnya. Kemudahan ini membuat orang gampang membeli barang tanpa harus punya uang tunai saat itu juga.
Padahal, studi dari Katadata Insight Center mencatat sekitar 49 persen anak muda mengaku sulit menabung. Bahkan, 53 persen di antaranya mengaku kesulitan menutup biaya kebutuhan hidup pokok. Ketika dompet sedang tipis tetapi kemudahan paylater selalu ada di genggaman, jeratan utang belanja impulsif menjadi sangat sulit dihindari.
Bahaya Lingkaran Setan Belanja Pelarian
Belanja demi mengobati stres bisa menjadi bumerang berbahaya. Ini membentuk lingkaran setan yang sulit diputus. Awalnya kamu stres karena pekerjaan, lalu kamu belanja online untuk menghibur diri. Saat tagihan akhir bulan datang, kamu kembali panik dan stres karena uang tidak cukup. Akhirnya, kamu merasa sedih lagi dan kembali mencari pelarian lewat belanja.
Jika dibiarkan terus, utang cicilan online akan menumpuk. Riwayat catatan pinjamanmu bisa memburuk, sehingga kamu akan kesulitan jika suatu saat membutuhkan pinjaman resmi untuk kebutuhan penting, seperti modal usaha atau biaya darurat medis.
Langkah Santai Mengendalikan Keinginan Belanja
Kabar baiknya, kebiasaan ini bisa kamu hentikan pelan-pelan tanpa harus merasa tersiksa. Kamu bisa mencoba beberapa cara mudah berikut:
Pertama, gunakan aturan tunggu 24 jam. Jika melihat barang menarik di toko online, masukkan saja ke keranjang, lalu tutup aplikasinya. Tunggu sampai besok hari. Sering kali rasa ingin membeli barang tersebut sudah hilang keesokan harinya.
Kedua, hapus tautan paylater dari aplikasi e-commerce kamu. Menambah langkah yang rumit sebelum membayar akan memberi otak waktu untuk berpikir ulang secara sadar.
Ketiga, cari cara hiburan lain yang ramah dompet saat lelah, seperti jalan santai sore hari, menonton video lucu, atau bercerita dengan sahabat dekat.
Menghargai kerja keras diri sendiri tentu boleh dan sangat manusiawi. Namun, menjaga kesehatan rekening dan masa depanmu jauh lebih penting agar kamu bisa hidup lebih tenang dan bebas dari rasa cemas.
Poin Penting
- Doom spending adalah kebiasaan belanja impulsif untuk meredakan stres dan kecemasan akibat masalah hidup.
- Banyak anak muda merasa masa depan finansial makin sulit, sehingga lebih memilih menikmati uang untuk belanja instan hari ini.
- Layanan beli sekarang bayar nanti atau paylater membuat transaksi belanja impulsif naik drastis hingga tembus triliunan rupiah.
- Hampir separuh anak muda kesulitan menabung, namun tetap tergoda belanja pelarian yang berujung pada tumpukan cicilan.
- Menghentikan kebiasaan ini bisa dimulai dengan memberi jeda 24 jam sebelum checkout dan mencari hiburan murah tanpa biaya besar.
Ringkasan: Doom spending kini menjadi fenomena umum di kalangan anak muda yang sedang menghadapi tekanan hidup dan ketidakpastian ekonomi. Alih-alih menabung untuk masa depan yang terasa kian sulit diraih, banyak orang memilih berbelanja barang secara spontan di internet demi mendapatkan rasa senang sesaat.
Kemudahan layanan paylater atau beli sekarang bayar nanti di berbagai aplikasi digital kian memperburuk masalah ini. Transaksi pinjaman online ini terus melonjak tinggi karena pengguna bisa langsung membawa pulang barang tanpa perlu mengeluarkan uang tunai di awal.
Jika tidak segera disadari, kebiasaan belanja emosional ini akan menciptakan lingkaran setan berupa tumpukan utang dan stres finansial yang berkepanjangan. Kunci utamanya adalah belajar memberi jeda sebelum membayar serta mengalihkan stres ke kegiatan lain yang lebih hemat dan sehat.
Jika setelah membaca ini Anda ingin mengubah ide menjadi produk nyata, TechnoMonsta siap membantu pembuatan website atau aplikasi mobile dengan proses yang rapi dan terukur—mulai dari MVP sampai pengembangan lanjutan sesuai kebutuhan bisnis.